Sensasi Catur di Warung Kopi



Judul Novel                 : Cinta di Dalam Gelas
Pengarang                   : Andrea Hirata
Penerbit                       : Bentang Pustaka
Tahun Terbit                : 2011
Tebal Halaman            : xvi + 316 halaman

Cinta di Dalam Gelas adalah novel kedua dari dwilogi Padang Bulan karya Andrea Hirata. Kesuksesannya dalam novel Laskar Pelangi tidak membuat beliau cepat puas dalam berkarya. Kepiawaiannya menuangkan ide dalam cerita melejit hingga ke berbagai belahan dunia. Sesuai ciri khas Andrea, novel ini membawa tokoh Ikal sebagai salah satu pemain utama dan narator dari kisah ini.

Novel Cinta di Dalam Gelas bercerita tentang kehidupan dewasa Ikal di Belitong, bekerja di Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi milik pamannya. Suatu hari, ia dikagetkan oleh Maryamah, sahabatnya, yang ingin menantang mantan suaminya, Matarom, di pertandingan catur tujuhbelasan kampungnya. Hal ini sungguh mengejutkan Ikal karena Maryamah bahkan belum pernah menyentuh bidak catur sama sekali. Selain itu, Kampung Belitong masih sangat mengutamakan budaya paternalistik, dimana perempuan tidak bisa mentang-mentang main tanding dengan laki-laki. Apalagi, menantang Matarom bukanlah suatu hal main-main. Dengan Rezim Matarom yang terkenal, juga papan catur peraknya yang melegenda, ia dapat membangun serangan catur yang mematikan seluruh pecatur kampung.

Perjuangan Maryamah mempersiapkan diri dalam pertandingan catur sungguh luar biasa. Dengan bantuan tim Operasi Belalang Sembah, Maryamah belajar cara bermain catur bersama orang-orang yang sungguh hebat. Maryamah berkembang sangat cepat sebagai representasi pertahanan harga dirinya yang kuat. Kerjasama Ikal dan tim Operasi Belalang Sembah seringkali terjungkal karena banyak pihak yang menentang mereka. Namun, hal ini semakin menggiatkan mereka melakukan operasi mencari kelemahan setiap lawan yang akan dilawan Maryamah.

Novel ini disusun dengan rapi, baik dari tata bahasa maupun makna dan jalan cerita itu sendiri. Latar Belitong yang disuguhkan sungguh kental dan relevan dengan nilai sosial dan budaya Melayu sesungguhnya. Prinsip dan pola pikir orang Melayu juga sangat terpancar dari setiap bagian cerita, membuat para pembaca mudah menyatu dengan suasana dalam novel tersebut. Hal ini menunjukkan pengarang yang sungguh brilian dan cermat dalam meneliti kebiasaan orang Melayu, sampai ke hal yang paling detail seperti cara orang memegang gelas kopi sekalipun.

Kiranya tidak ada suatu kecacatan yang berarti dari buku ini. Saya hanya ingin mengomentari halaman sampul belakang buku dimana foto Andrea Hirata kurang diedit secara profesional sehingga wajahnya terlihat gepeng dan kurang menarik, sungguh disayangkan mengingat isi buku yang cukup menarik untuk ditelaah. Hal ini lebih baik diperbaiki pada edisi selanjutnya dengan pengeditan yang lebih rapi agar dapat menarik lebih banyak pembaca.

Buku ini cocok dibaca untuk remaja dan dewasa yang tertarik dengan budaya dan kebiasaan sosial dalam masyarakat, tetapi tidak menutup diri untuk semua kalangan awam yang sekedar ingin terhibur dengan kecerdikan tokoh dalam cerita.

Buku ini saya rekomendasikan bagi Anda yang tertarik melihat sisi lain kehebatan Andrea Hirata dalam menulis karya-karyanya.

Komentar