Menganalisis Unsur-Unsur Cerpen
KD 2.1
Valentina Kania P.
X - Aks - 2 / 16
1. Judul : “Katakan Saja!”
Karya : Alleya Hanifa
2. Unsur intrinsik
a. Tema : Memaafkan
b. Latar
- Waktu :
* istirahat sekolah, bukti : “Sekarang, sudah jam istirahat, Dina makan semangkuk mi ayam di kantin.”
* pulang sekolah, bukti : “Bel pulang telah berbunyi beberapa menit yang lalu.”
* Seminggu kemudian saat mading kelas sembilan terbit, bukti : “Seminggu kemudian, ada kerumunan di depan mading kelas sembilan.”
- Tempat :
* kantin sekolah, bukti : “Sekarang, sudah jam istirahat, Dina makan semangkuk mi ayam di kantin.”
* dekat gerbang sekolah, bukti : “Dia berjalan menuju gerbang sekolah.”
* depan mading kelas sembilan, bukti : “Seminggu kemudian, ada kerumunan di depan mading kelas sembilan.”
- Suasana :
* mengesalkan, bukti : “Dina sedang kesal. Kesal sekali!”
* menyenangkan/membahagiakan, bukti : “... seru Anggit dengan senyum mengembang di wajahnya.”
* ramai, bukti : “Terdengar berbagai celoteh menarik di sana.”
* menegangkan, bukti : “... tanya Anggit dengan nada tinggi. Kemudian, dia melipat tangannya dan membuang mukanya.”
* melegakan, bukti : “Dina tersenyum lega.”
c. Alur : Alur maju dengan tahapan alur sebagai berikut:
- Perkenalan : Dina adalah siswa kelas sembilan di suatu sekolah.
- Pertikaian : Dina kesal karena Anggit mencuri ide presentasi dan makalahnya.
- Konflik : Dina menulis perasaannya kepada Anggit melalui rubrik majalah dinding berjudul “Katakan Saja!” yang akan dimuat minggu depan. Siang harinya, Anggit meminta maaf kepada Dina karena telah mencuri ide makalahnya.
- Klimaks : Dina lupa memberi tahu Tami untuk menghapus tulisannya di rubrik “Katakan Saja!”. Setelah Anggit membaca majalah dinding tersebut, Anggit merasa marah kepada Dina.
- Antiklimaks : Dina menjelaskan kepada Anggit bahwa ia lupa memberi tahu Tami soal tulisan itu. Mereka pun saling memaafkan dan kembali berteman.
d. Nilai :
- Nilai moral yang kurang baik ditunjukkan oleh sikap Dina yang lebih memilih untuk menyindir Anggit melalui media daripada berbicara langsung kepada Anggit.
- Nilai sosial ditunjukkan oleh hubungan sikap Dina dan Anggit yang tidak malu untuk meminta maaf dan memaafkan.
e. Amanat :
- Jangan takut untuk meminta maaf kepada orang lain!
- Jangan segan untuk memaafkan orang lain!
- Jika memiliki masalah, seseorang lebih baik berbicara langsung kepada orang yang bersangkutan daripada menyindir melalui media massa.
3. Unsur ekstrinsik
a. Latar kepengarangan penulis : Alleya Hanifa adalah penulis muda yang berbakat. Ia lahir di Semarang, 19 April 1996. Ia sudah menulis buku kumpulan cerpen sejak tahun 2006. Ia juga memiliki segudang prestasi bidang kebahasaan dan sastra.
b. Keyakinan penulis : Penulis muda ini ingin mengajak pembacanya untuk berani mengungkapkan masalahnya dengan orang yang bersangkutan secara langsung dan tidak malu mengakui kesalahannya.
c. Masyarakat pembaca : Kondisi masyarakat zaman sekarang sangat sesuai dengan kondisi pada cerpen tersebut. Pembaca cerpen yang rata-rata pelajar anak-anak dan remaja seringkali malu untuk mengakui kesalahan, seperti tokoh cerita tersebut. Masyarakat era globalisasi juga mulai bersikap individualis dan memilih menulis diam-diam ketimbang berbicara langsung. Masyarakat dapat mencerna amanat yang disampaikan karena cerpen ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami.
Valentina Kania P.
X - Aks - 2 / 16
1. Judul : “Katakan Saja!”
Karya : Alleya Hanifa
2. Unsur intrinsik
a. Tema : Memaafkan
b. Latar
- Waktu :
* istirahat sekolah, bukti : “Sekarang, sudah jam istirahat, Dina makan semangkuk mi ayam di kantin.”
* pulang sekolah, bukti : “Bel pulang telah berbunyi beberapa menit yang lalu.”
* Seminggu kemudian saat mading kelas sembilan terbit, bukti : “Seminggu kemudian, ada kerumunan di depan mading kelas sembilan.”
- Tempat :
* kantin sekolah, bukti : “Sekarang, sudah jam istirahat, Dina makan semangkuk mi ayam di kantin.”
* dekat gerbang sekolah, bukti : “Dia berjalan menuju gerbang sekolah.”
* depan mading kelas sembilan, bukti : “Seminggu kemudian, ada kerumunan di depan mading kelas sembilan.”
- Suasana :
* mengesalkan, bukti : “Dina sedang kesal. Kesal sekali!”
* menyenangkan/membahagiakan, bukti : “... seru Anggit dengan senyum mengembang di wajahnya.”
* ramai, bukti : “Terdengar berbagai celoteh menarik di sana.”
* menegangkan, bukti : “... tanya Anggit dengan nada tinggi. Kemudian, dia melipat tangannya dan membuang mukanya.”
* melegakan, bukti : “Dina tersenyum lega.”
c. Alur : Alur maju dengan tahapan alur sebagai berikut:
- Perkenalan : Dina adalah siswa kelas sembilan di suatu sekolah.
- Pertikaian : Dina kesal karena Anggit mencuri ide presentasi dan makalahnya.
- Konflik : Dina menulis perasaannya kepada Anggit melalui rubrik majalah dinding berjudul “Katakan Saja!” yang akan dimuat minggu depan. Siang harinya, Anggit meminta maaf kepada Dina karena telah mencuri ide makalahnya.
- Klimaks : Dina lupa memberi tahu Tami untuk menghapus tulisannya di rubrik “Katakan Saja!”. Setelah Anggit membaca majalah dinding tersebut, Anggit merasa marah kepada Dina.
- Antiklimaks : Dina menjelaskan kepada Anggit bahwa ia lupa memberi tahu Tami soal tulisan itu. Mereka pun saling memaafkan dan kembali berteman.
d. Nilai :
- Nilai moral yang kurang baik ditunjukkan oleh sikap Dina yang lebih memilih untuk menyindir Anggit melalui media daripada berbicara langsung kepada Anggit.
- Nilai sosial ditunjukkan oleh hubungan sikap Dina dan Anggit yang tidak malu untuk meminta maaf dan memaafkan.
e. Amanat :
- Jangan takut untuk meminta maaf kepada orang lain!
- Jangan segan untuk memaafkan orang lain!
- Jika memiliki masalah, seseorang lebih baik berbicara langsung kepada orang yang bersangkutan daripada menyindir melalui media massa.
3. Unsur ekstrinsik
a. Latar kepengarangan penulis : Alleya Hanifa adalah penulis muda yang berbakat. Ia lahir di Semarang, 19 April 1996. Ia sudah menulis buku kumpulan cerpen sejak tahun 2006. Ia juga memiliki segudang prestasi bidang kebahasaan dan sastra.
b. Keyakinan penulis : Penulis muda ini ingin mengajak pembacanya untuk berani mengungkapkan masalahnya dengan orang yang bersangkutan secara langsung dan tidak malu mengakui kesalahannya.
c. Masyarakat pembaca : Kondisi masyarakat zaman sekarang sangat sesuai dengan kondisi pada cerpen tersebut. Pembaca cerpen yang rata-rata pelajar anak-anak dan remaja seringkali malu untuk mengakui kesalahan, seperti tokoh cerita tersebut. Masyarakat era globalisasi juga mulai bersikap individualis dan memilih menulis diam-diam ketimbang berbicara langsung. Masyarakat dapat mencerna amanat yang disampaikan karena cerpen ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami.
Komentar
Posting Komentar